PT BESTPROFIT FUTURES MEDAN
KOMPAS.com - Seorang insinyur Jepang,
Atsushi Shimizu, berhasil membuat turbin bertenaga topan pertama di
dunia. Turbin berbentuk seperti pengocok telur ini tak hanya dirancang
untuk menahan kekuatan luar biasa dari siklon tropis, tetapi juga
memanfaatkan energi kekuatan angin tersebut.
Turbin bertenaga topan tersebut memiliki potensi energi yang besar. Dikutip dari National Geographic, Atsushi memaparkan, dari satu angin topan,
serangkaian pembangkit listriknya dapat menjadi sumber energi Jepang
untuk 50 tahun.
Terlebih, Jepang berada di wilayah yang sering diterpa angin topan.
Pada 2016 lalu, setidaknya ada enam topan yang melanda Negeri Sakura
ini.
“Harus diakui, Jepang memiliki lebih banyak tenaga angin ketimbang
surya, hanya saja belum dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan, Jepang
berpotensi jadi negara adidaya angin,” ujar Atsushi.
Memang, saat ini, Pemerintah Jepang terus mencari sumber energi baru.
Sebab, sejak terjadinya tsunami pada 11 Maret 2011 yang menghancurkan
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Fukushima, Jepang mengalami
krisis energi.
Selain mencari sumber alternatif baru, berbagai kebijakan juga
dicanangkan oleh Pemerintah Jepang guna mengefisiensi penggunaan energi.
Masih dilaporkan National Geographic, Menteri Lingkungan Hidup Jepang Ryu Matsumoto meluncurkan kampanye kebijakan Super Cool Biz.
Di sini, Jepang membebaskan karyawan kantoran untuk berpakaian
kasual. Tak perlu lagi kemeja dan dasi. Asyiknya lagi, mereka juga
diperbolehkan bekerja dari rumah.
Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari kebijakan yang dicanangkan
Menteri Lingkungan Hidup sebelumnya, Yuriko Koike, pada 2005 lalu.
Yuriko mengimbau agar perusahaan dan kantor pemerintahan mengurangi
pemakaian listrik dengan cara menaikkan suhu pendingin udara (AC) hingga
28 persen. Nah, sebagai gantinya, karyawan boleh menggunakan pakaian
kasual agar tidak merasa kegerahan.
Hasilnya jangan ditanya. Jepang berhasil mengurangi konsumsi listrik
perusahaan hingga 15 sampai 20 persen. Emisi karbon dioksida (CO2) juga
berkurang drastis.
Dalam satu tahun, emisi CO2 Jepang berkurang hingga 1,14 juta ton.
Angka ini setara dengan jumlah emisi yang dikeluarkan oleh 2,5 juta
rumah tangga per bulan, lho.
Begitulah Jepang. Berbagai cara dan inovasi terus dikembangkan negara
itu sebagai langkah penghematan energi, termasuk mengembangkan
produk-produk rumah tangga yang efisien dari berbagai sisi, seperti hemat energi dan hemat biaya.
Indonesia juga bisa mengikuti jejaknya. Tak perlu berpikir jauh,
penghematan energi sebenarnya bisa dilakukan oleh kita sebagai
masyarakat. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah memulainya dari
penghematan listrik di rumah.
Bagaimana caranya?
Jika semua rumah tangga bisa menerapkan prinsip hemat energi, niscaya efisiensi energi listrik di Indonesia bisa tercapai.
Ada banyak cara untuk bisa menghemat energi listrik di rumah. Sebagai
contoh, Anda bisa mengurangi pemakaian listrik untuk hal yang
tidak perlu, seperti mematikan lampu saat ruangan kosong.
Perhatikan pula dekorasi rumah Anda. Sebab, rumah dengan pencahayaan
yang tepat dan sirkulasi udara yang baik akan mengurangi penggunaan
lampu dan pendingin udara. Di samping itu, pilih peralatan rumah tangga
yang hemat energi.
Saat ini ada beragam inovasi teknologi yang sudah bisa mendukung hal
tersebut. Hal itu tak lain juga karena banyak produk rumah tangga asal
Jepang yang sudah masuk ke Indonesia. Contoh saja AQUA Japan.
Berbagai produk peralatan rumah tangga buatan AQUA Japan ini dirancang untuk memahami kebutuhan kaum urban (#KnowYouBetter) yang memerlukan efisiensi dari berbagai sisi, seperti efisiensi harga, desain, juga energi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar